oleh

MERDEKA DARI COVID-19 DAN ANCAMAN GELOMBANG KE-3.

Oleh: Dr. Wiratmadinata, S.H., M.H.

 

Judul artikel ini memang sengaja dibuat lebih optimis, yaitu; “Merdeka dari pandemic Covid-19”. Ya, tentu saja kita wajib terus bersikap positif dengan konsisten menjaga harapan dan optimisme agar terbebas dari pandemi covid-19, meski telah membelenggu kita selama dua tahun terakhir. Sementara itu, kita juga masih terancam oleh serangan gelombang ketiga, pandemi, yang seakan menambah ketidakpastian, kapan berakhirnya pandemi ini. Oleh karena itu, sekarang setiap warga dunia bertanya-tanya di dalam hati; dapatkah kita merdeka dari covid-19?

Para ahli dan pengambil kebijakan di seluruh dunia, sangat hati-hati dalam meramalkan kapan berakhirnya pandemic covid-19, meskipun banyak negara sudah menyatakan diri terbebas dari virus yang selalu bermutasi mengubah dirinya itu. Sementara sampai dengan November 2021 ini kasus-kasus baru infeksi virus corona penyebab Covid-19 masih terus dilaporkan.

Mengutip Worldometers, media Kompas hingga Minggu 10 November 2021, menyampaikan total kasus corona secara global telah mencapai 238 juta kasus lebih. Sementara pasien yang berhasil sembuh sebanyak 215 juta orang, dan korban meninggal sekitar 4,5 juta orang.

Sementara itu, pada akhir September 2021 silam, Reuters melaporkan, Chief Executive Officer (CEO) Moderna, Stephane Bancel memperkirakan pandemi virus corona bisa selesai dalam waktu setahun ke depan. Perkiraan itu, dia simpulkan, berdasarkan kapasitas produksi vaksin yang terus meningkat, sehingga kebutuhan suplai vaksin global dipastikan tercukupi. Menurutnya, dengan adanya perluasan kapasitas produksi di seluruh industri selama enam bulan terakhir 2021, dosis yang cukup akan tersedia pada pertengahan tahun 2022, sehingga semua orang mendapat divaksinasi.

Bancel juga mengatakan, dalam waktu dekat vaksin Covid-19 untuk balita juga akan tersedia.
“Mereka yang tidak divaksinasi akan mengimunisasi diri mereka sendiri secara alami, karena varian Delta sangat menular. Dengan cara ini kita akan berakhir dalam situasi yang mirip dengan flu. Anda dapat divaksinasi dan memiliki musim dingin yang baik, atau Anda tidak melakukan itu dan berisiko sakit, bahkan mungkin berakhir di rumah sakit,” ujar dia. Bancel meyakini bahwa semua orang akan bisa kembali pada kehidupan normal mereka pada paruh kedua tahun depan, itu artinya tahun 2022. “Saat ini, dalam waktu setahun, saya yakin itu bisa,” kata Bancel.

Sementara itu, pada 26 September 2021, CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan bahwa ia meyakini kehidupan normal akan kembali pada tahun depan, meskipun ada kemungkinan varian baru virus corona masih tetap bermunculan. “Saya setuju bahwa dalam setahun saya pikir kita akan dapat kembali ke kehidupan normal,” kata Bourla. Ia melanjutkan, “Saya tidak berpikir ini berarti bahwa varian baru tidak akan muncul, dan saya tidak berpikir ini berarti kita seharusnya dapat menjalani hidup kita tanpa vaksinasi,” ujar dia.

Bourla meyakini bahwa Covid-19 kemungkinan akan membutuhkan vaksinasi tahunan untuk mengatasi varian baru yang muncul di seluruh dunia. “Skenario yang paling mungkin bagi saya – karena virus ini menyebar ke seluruh dunia – adalah kita akan terus melihat varian baru yang muncul, dan juga kita akan memiliki vaksin yang akan bertahan setidaknya satu tahun,” katanya. “Saya pikir skenario yang paling mungkin adalah vaksinasi tahunan. Tapi kita tidak tahu persis. Kita harus menunggu dan melihat datanya,” ujar Bourla.

Profesor Dame Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan dibalik terciptanya vaksin AstraZeneca, memprediksi bahwa Covid-19 pada akhirnya akan menjadi seperti virus corona lain yang beredar luas dan menyebabkan flu biasa. Hal tersebut disampaikan Gilbert saat berbicara di webinar Royal Society of Medicine, yang dilaporkan media. Ia mengatakan, virus corona penyebab Covid-19 akan melemah seiring waktu dan akhirnya akan menjadi seperti virus corona yang lain. “Kita sudah hidup dengan empat virus corona yang berbeda yang tidak pernah terlalu kita pikirkan dan akhirnya Sars-CoV-2 akan menjadi salah satunya,” kata Gilbert.

Dari beberapa pandangan di atas, jelas sekali bahwa berakhirnya pandemic covid-19 terkait erat dengan program vaksinasi yang sedang gencar dilaksanakan di seluruh Indonesia. Oleh karena itu sudah tepat langkah yang lakukan pemerintah Aceh dalam upaya meningkatkan cakupan vaksinasi di seluruh wilayah berpenduduk 5 juta jiwa ini. Dengan demikian Pemerintah Aceh dapat membantu Indonesia keluar dari pandemic, yang sudah sangat menekan kehidupan bangsa, terutama secara sosial dan eknomi ini.

Harus diakui, vaksinasi Covid-19 merupakan salah satu ikhtiar terpenting untuk memutus rantai penularan virus corona, hingga tercapainya kekebalan kelompok alias “herd immunity”. Tapi ada berita bagus, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi mengatakan cakupan vaksinasi di Indonesia telah melampaui target WHO.

Organisasi Kesehatan Dunia itu menargetkan setiap negara memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasinya pada akhir September 2021. Sekurangnya 40 persen pada akhir tahun 2021 ini, dan 70 persen populasi dunia pada pertengahan 2022. “Indonesia berhasil mencapainya lebih cepat dari target tersebut,” ujar Nadia lewat keterangan resmi, Selasa, 16 November 2021.

Terhitung pada 15 November 2021, pukul 18:00 WIB, dari 208,2 juta sasaran, sekitar 215,6 juta dosis vaksin telah diberikan kepada sekitar 130,3 juta orang yang menerima vaksin (62,5 persen dari sasaran) dosis pertama. Lebih dari 84,1 juta di antaranya (40,4 persen) sudah mendapatkan dosis kedua. Untuk vaksinasi ketiga atau booster bagi Nakes sudah diberikan sebanyak 1,19 juta (81 persen). Adapun ketersediaan sok vaksin Covid-19 di Indonesia berjumlah 342,5 juta dosis vaksin dalam bentuk jadi dan bulk. Terakhir Indonesia menerima 4 juta dosis vaksin Sinovac pada Sabtu, 13 November 2021.

Seiring seayunan, Pemerintah Aceh, sebagaimana dilaporkan Sekda Aceh, mewakili Gubernur Aceh, pada 16 November 2021, kepada Wapres K.H. Ma’ruf Amiin melaporkan, bahwa vaksinasi di Aceh sudah berada pada posisi 34,5% (15 November 2021) dari 19% pada bulan Agustus. Peningkatan tajam terjadi pada September 6,3%, Oktober 5,9%, dan 15 November 2021 sebesar 3,5%. Kenaikan signifikan terjadi pada kelompok usia sekolah/remaja, yaitu 28,9% dari sebelumnya 2,8%. Menurut Pak Sekda, Peningkatan terjadi setelah dilakukannya sosialisasi massif untuk kelompok usia remaja pada 1.141 pasantren dan 2.677 sekolah serta pertemuan dengan 6.497 kepala desa, 289 camat, 360 Kepala puskesmas dan dukungan luar biasa dari para ulama.

“Saat ini sisa target realisasi tinggal 45%. Dengan sisa waktu 45 hari, kami harus mengejar 1% per hari, atau sekitar 40.000 s.d. 50.000 vaksinasi per hari, sehingga dibutuhkan ketersediaan vaksin per hari sebanyak 40.000 s.d. 50.000 dosis, yang bila diakumulasikan mencapai sekitar 4,3 juta dosis,” ungkap Pak Taqwallah kepada Wapres.

Sementara itu di belahan lain dunia, sudah ada negara-negara yang berhasil memenuhi target vaksinasinya. Kasus Covid-19 pun terpantau turun. Bahkan sudah ada kebijakan pelonggaran protokol kesehatan, seperti tidak wajibnya memakai masker. Diantaranya adalah, Kanada, Inggris, Israel, Italia, Jerman dan Amerika Serikat.

Kanada adalah negara yang berada di peringkat pertama cakupan persentase dengan populasi tervaksinasi tertinggi adalah Kanada. Berdasarkan data yang dihimpun Our World Data, Kanada berhasil memvaksinasi sebanyak 69,27 persen penduduknya, per 9 Juli 2021. Negara yang dipimpin Perdana Menteri Justin Trudeau ini pun dikenal sukses menurunkan angka kasus penularan Covid-19, seiring dengan tumbuhnya cakupan vaksinasi. Dari grafik yang ditampilkan oleh sumber yang sama, terlihat bahwa Kanada sempat mengalami dua gelombang penularan Covid-19.

Puncak gelombang pertama terjadi pada awal Januari 2021, dengan lebih dari 8.000gan kasus per hari saat itu. Sempat turun hingga 2.000-an kasus pada Februari, 2021, namun Kanada menghadapi gelombang kedua penularan Covid-19. Sementara puncak gelombang kedua terjadi pada pertengahan April 2021 yang juga kembali tembus 8.000 kasus per hari. Tampaknya disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan dan cakupan vaksinasi yang tinggi ampuh menekan penularan Covid-19.

Pada awal Juli 2021, penambahan kasus harian berkisar di angka 500 kasus per hari. Bahkan sejak Juni 2021, tak pernah lagi penambahan kasus di atas 600 per hari. Sebagai informasi, merek vaksin Covid-19 yang dipakai pemerintah Kanada cukup bervariasi. Dari literatur yang ditemukan Big Alpha, dua di antaranya adalah Astrazeneca dan Pfizer.
Negara kedua dengan cakupan vaksinasi Covid-19 tertinggi adalah Inggris. Hingga pekan kedua Juli 2021, Inggris telah memvaksinasi 67,45 persen warganya. Dari grafik penambahan kasus harian, terlihat bahwa Inggris telah melewati puncak gelombang pertama di awal Januari 2021 lalu. Saat itu, jumlah kasus harian di Inggris mencapai 57.850 kasus per hari. Seiring dengan laju vaksinasi Covid-19 yang tinggi, penambahan kasus harian Inggris sempat turun cukup dalam ke level 2.000-an kasus per hari.

Sayangnya, sejak akhir Mei sampai awal Juli 2021 ini kasus harian di Inggris menanjak lagi. Bahkan pada pekan kedua Juli ini, penambahan kasus harian menyentuh angka 30.000 kasus per hari. Media internasional menyebutkan, varian Delta menjadi biang kerok di balik lonjakan kasus di Inggris saat ini.
Negara ketiga yang tercatat memiliki cakupan vaksinasi tinggi adalah Israel. Negara ini telah memvaksinasi 66,13 persen warganya, setidaknya satu dosis. Bahkan untuk vaksinasi dosis lengkap pun, cakupannya sudah tembus 50 persen. Dari grafik penambahan kasus harian Covid-19, terlihat bahwa Israel berhasil melewati puncak gelombang pertama pada akhir September 2020 lalu dan puncak gelombang kedua pada akhir Januari 2021. Saat puncak gelombang kedua terjadi, kasus harian Covid-19 di Israel tembus 8.000 kasus per hari. Saat ini, kasus harian di Israel berkisar di angka 100-an orang per hari.

Selanjutnya, Italia. Data menunjukkan bahwa Italia telah memvaksinasi setidaknya 59,02 persen warganya per pekan kedua Juli 2021. Sepertinya, program vaksinasi Covid-19 di Italia memang cukup sukses menekan angka penularan. Dilihat dari data yang disajikan worldometer, terlihat bahwa Italia telah melalui puncak gelombang pertama pada November 2020 lalu. Saat itu, penambahan kasus harian di Italia bisa menyentuh 41.000 kasus per hari. Sedangkan saat ini, masuk pekan kedua Juli 2021, kasus harian sudah jauh dibawah di angka 1.000-an orang per hari.
Jerman merupakan salah satu negara yang dianggap berhasil menangani pandemi Covid-19. Tidak hanya dari laju vaksinasinya yang memang tinggi, namun kebijakan pemerintah Jerman sejak awal pandemi memang terbilang sigap. Kebijakan penguncian wilayah dan perlindungan terhadap kelompok lansia dianggap berperan besar dalam keberhasilan Jerman. Our World Data merilis, Jerman telah memvaksinasi setidaknya 57,79 persen warganya per pekan kedua Juli 2021.

Seiring dengan tingginya laju vaksinasi, angka kasus harian pun semakin menurun. Jerman mengalami puncak gelombang pertama pada pengujung Desember 2020 lalu dengan nyaris 50.000 kasus baru dalam sehari. Namun kondisinya saat ini sudah jauh lebih baik. Masuk pekan kedua Juli 2021, penambahan kasus Covid-19 harian di Jerman tak sampai 1.000 orang dalam sehari.

Amerika Serikat (AS) tercatat telah melakukan vaksinasi 54,88 persen penduduknya. Sejalan dengan cukup tingginya laju vaksinasi, AS pun berhasil menahan laju penularan kasus Covid-19. AS tercatat mengalami puncak gelombang pertama pada awal tahun 2021 ini, dengan lebih dari 300.000 kasus baru dalam satu hari. Namun saat ini angkanya sudah bisa ditekan ke bawah 30.000 kasus per hari.

Kita berharap, cakupan vaksinasi kita akan semakin cepat dan meluas di seluruh Aceh sesuai target, tentu dengan syarat, stock vaksin nasional dapat tersalurkan ke Aceh sesuai kebutuhan sebagaimana yang telah dilaporkan oleh dr., Taqwallah, M.Kes., kepada Wapres beberapa waktu lalu. Sementara itu sosialiasi untuk terus menjalankan disiplin Protokol Kesehatan, juga tak boleh berhenti, agar serangan gelombang ketiga, Covid-19 tidak terjadi. Apakah memang benar ada potensi serangan gelombang ke-3 Covid? Mari simak apa kata ahli;

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko, Rabu 17 November lalu dalam diskusi zoom, menilai potensi gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Tanah Air sangat besar. Penilaian tersebut berdasarkan empat hal;
Pertama, relaksasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terlalu terburu-buru. Ini mengakibatkan mobilitas masyarakat meningkat signifikan. Kedua, varian baru Covid-19. Hingga saat ini, Indonesia memang belum mendeteksi adanya varian Delta Plus atau AY.4.2. Namun, varian tersebut sudah terdeteksi di Singapura. Ketiga; surveilans yang kurang baik atau kurang bisa menangkap kasus yang sesungguhnya. Jadi kasus yang sesungguhnya mungkin dilaporkan berbeda dari kasus sebenarnya, “karena semua semua kabupaten dan kota mau level satu,” jelasnya dalam diskusi virtual, Rabu (17/11). Keempat, Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Menurut Tri, kerumunan yang terjadi saat libur Natal dan Tahun Baru tidak bisa dibendung sehingga sangat berisiko untuk terjadinya transmisi Covid-19.

Tri memprediksi, gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Indonesia terjadi pada Januari 2022. Peningkatan kasus positif Covid-19 pada puncak gelombang ketiga ini tidak akan lebih dari 18.000 per hari. “Mungkin kalau cakupan vaksinasi (dosis lengkap) mencapai 50 persen atau kurang dari 50 persen sedikit, mungkin gelombang ketiga akan kurang dari 5.000 (kasus positif Covid-19 per hari),” tutupnya.
Sebelumnya, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan gelombang ketiga Covid-19 pasti terjadi. Ada empat hal yang bisa memicu gelombang ketiga Covid-19.

Pertama, pola penyebaran Covid-19 yang bersifat fluktuatif tergantung pergerakan masyarakat. Kedua, cakupan vaksinasi masih rendah. Ketiga, varian Delta yang masih mendominasi di Indonesia. Keempat, mobilitas penduduk meningkat jelang.
Lalu apakah makna semua data dan perdebatan yang disajikan di depan mata kita?
Tetaplah optimis bahwa kita bisa segera merdeka dari covid-19, tapi wajib waspada, karena ancaman gelombang serangan Covid-19, khususnya serangan gelombang ketiga masih mungkin terjadi. Jangan pernah lalai dan abai terhadap protokol kesehatan minimum. Pada akhirnya, semua terserah kita. Ayo!

 

Sumber: Humas Aceh

Komentar